flora bengkulu


Rafflesia Arnoldi

Siapa yang tak tahu Rafflesia Arnoldi? Ya! Hampir seluruh masyarakat Indonesia pasti pernah mendengar bunga yang bernama rafflesia arnoldi, tentunya karena bunga ini termasuk salah satu pelajaran biologi pada saat Sekolah Dasar. Tapi pernahkah mereka melihat secara langsung bentuk bunga ini? Saya meragukan hal itu. Karena bunga ini hanya tumbuh dan hidup di kawasan Provinsi Bengkulu. Yakni di perbatasan kota Bengkulu dan Kabupaten Kepahiang, sekitar 1,5 jam perjalanan dari kota Bengkulu. Asal mula nama Rafflesia Arnoldi karena bunga ini ditemukan oleh ilmuwan dari Inggris yang bernama Thomas Stanford Raffles pada tahun 1818, di kawasan hutan Manna, Bengkulu selatan.
Banyak yang menafsirkan bahwa rafflesia arnoldi adalah bunga bangkai. Itu adalah pernyataan yang keliru. Bunga rafflesia adalah sejenis bunga parasit yang mempunyai lima daun mahkota yang mengelilingi bagian yang terlihat seperti mulut gentong. Daun mahkotanya berwarna merah tua dengan motif bintik-bintik putih. Di dasar bunga terdapat bagian seperti piringan berduri, berisi benang sari atau putik bergantung pada jenis kelamin bunga, jantan atau betina. Bunga ini mengeluarkan bau busuk yang dapat menarik perhatian lalat. Tidak heran apabila di sekitar bunga tersebut selalu dikerubuti lalat. Sedangkan bunga bangkai merupakan jenis lainnya yang juga sama-sama mengeluarkan bau busuk, namun berbeda bentuk. (akan saya ulas dan dokumentasikan apabila saya sempat melihat bunga bangkai mekar beberapa bulan ke depan)
Masa pertumbuhan bunga ini mencapai 9 bulan dengan masa mekar hingga layu sekitar 5-8 hari saja. Diameter bunga bisa mencapai 1 meter pada saat mekar. Tapi yang saya dokumentasikan mempunyai diameter selebar 63cm. Bunga merupakan parasit tidak berakar, tidak berdaun, dan tidak bertangkai. Tapi tumbuh berparasit pada tumbuhan merambat dan tinggal di dalam akar tersebut. Sampai saat ini Rafflesia belum berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya dan apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup. Ini adalah gambar bakal bunga Rafflesia.

0 komentar:

Posting Komentar

flora bengkulu

| |


Rafflesia Arnoldi

Siapa yang tak tahu Rafflesia Arnoldi? Ya! Hampir seluruh masyarakat Indonesia pasti pernah mendengar bunga yang bernama rafflesia arnoldi, tentunya karena bunga ini termasuk salah satu pelajaran biologi pada saat Sekolah Dasar. Tapi pernahkah mereka melihat secara langsung bentuk bunga ini? Saya meragukan hal itu. Karena bunga ini hanya tumbuh dan hidup di kawasan Provinsi Bengkulu. Yakni di perbatasan kota Bengkulu dan Kabupaten Kepahiang, sekitar 1,5 jam perjalanan dari kota Bengkulu. Asal mula nama Rafflesia Arnoldi karena bunga ini ditemukan oleh ilmuwan dari Inggris yang bernama Thomas Stanford Raffles pada tahun 1818, di kawasan hutan Manna, Bengkulu selatan.
Banyak yang menafsirkan bahwa rafflesia arnoldi adalah bunga bangkai. Itu adalah pernyataan yang keliru. Bunga rafflesia adalah sejenis bunga parasit yang mempunyai lima daun mahkota yang mengelilingi bagian yang terlihat seperti mulut gentong. Daun mahkotanya berwarna merah tua dengan motif bintik-bintik putih. Di dasar bunga terdapat bagian seperti piringan berduri, berisi benang sari atau putik bergantung pada jenis kelamin bunga, jantan atau betina. Bunga ini mengeluarkan bau busuk yang dapat menarik perhatian lalat. Tidak heran apabila di sekitar bunga tersebut selalu dikerubuti lalat. Sedangkan bunga bangkai merupakan jenis lainnya yang juga sama-sama mengeluarkan bau busuk, namun berbeda bentuk. (akan saya ulas dan dokumentasikan apabila saya sempat melihat bunga bangkai mekar beberapa bulan ke depan)
Masa pertumbuhan bunga ini mencapai 9 bulan dengan masa mekar hingga layu sekitar 5-8 hari saja. Diameter bunga bisa mencapai 1 meter pada saat mekar. Tapi yang saya dokumentasikan mempunyai diameter selebar 63cm. Bunga merupakan parasit tidak berakar, tidak berdaun, dan tidak bertangkai. Tapi tumbuh berparasit pada tumbuhan merambat dan tinggal di dalam akar tersebut. Sampai saat ini Rafflesia belum berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya dan apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup. Ini adalah gambar bakal bunga Rafflesia.

0 komentar:

Posting Komentar

.